Kalau jalan Samanhudi mungkin sebanyak orang Gresik yang sudah tahu, tapi kalau Sungai Samanhudi insyaallah tidak ada orang yang tahu, meskipun dia sudah bongko’en tinggal di Gresik. Bukannya sungai ini tidak terkenal, tetapi memang tidak ada secara resmi. Sungai ini muncul hanya pada saat-saat tertentu saja, yakni pada saat: Hujan Deras!.
Saya masih ingat ketika dulu sering berplesir bersama keluarga melihat-lihat indahnya pantai Gresik. Pantainya berpasir, landai dan bersih. Banyak orang yang suka bermain dan berlibur bersama keluarga dan teman mereka ke pantai Gresik. Entah hanya untuk melihat indahnya pemandangan laut atau sekalian naik perahu sewaan yang banyak tersedia di pinggir pantai. Nun jauh disana terlihat perahu nelayan terombang-ambing di tengah lautan, sedang menangkap ikan. Kapal-kapal yang lebih besar bersandar di pelabuhan. Semua itu membentuk pemandangan dan kesan yang dalam tentang pantai utara kota Gresik.
Ditulis dalam Lingkungan | 17 Komentar »
Digawe pekoro awak loro, gak digawe pekoro ati sing loro. Pancen repot. Masalah iki sak jane yo dudu masalah nak Gresik tok, sak kabeh’e kuto nduwe masalah sing podo koyo ngene. Sak jane lek pengen ditertibno mungkin yo iso, tapi kaet biyen kok yo pancet bae.
Ono opo iki kok murang-muring terus? He..he..he..sory cak! Iki lho aku lagi mengkel gara-gara tukang parkir gak ono sing genah. Mosok wong parkir digawe dolanan.
Ditulis dalam Hukum-Kriminal | 3 Komentar »
Pada hari Sabtu kemarin, sebanyak kurang-lebih 200 regu dari Sekolah Menengah dan Kartar se-Gresik mengikuti lomba Gerak Jalan Tradisional Gresik-Balongpanggang PP. Festival yang sudah vakum selama 9 tahun itu diadakan lagi, menempuh jarak 45 km, dimulai dari Pendapa Alun-alun menuju Balongpanggang dan berakhir kembali di alun-alun.
Kegiatan gerak-jalan tersebut menarik perhatian warga sepanjang jalan yang dilalui peserta. Rombongan regu yang sangat banyak juga menyebabkan beberapa antrian kendaraan, namun tidak sampai menyebabkan kemacetan.
Namun, beberapa kelompok peserta menyayangkan regulasi panitia yang terlalu ketat seperti: tidak boleh diiringi pembina, tidak boleh membawa jam tangan dan makanan-minuman sendiri dan tidak boleh istirahat di tempat yang ditentukan. Seperti yang dikatakan salah satu peserta dari Sekolah Menengah di Gresik yang tidak mau disebutkan namanya, ketatnya peraturan dari panitia tersebut membuat peserta banyak yang menyiapkan trik untuk mengelabuhi panitia.
Ditulis dalam Sosial | 2 Komentar »
Gara-gara kemaren malam iseng-iseng bikin lampu tidur (lampion), saya jadi teringat dengan Damar Kurung -lampion khas Gresik- yang biasanya saya beli setiap acara Padusan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Sehingga pada waktu itu puasa ramadhan serasa kurang afdol tanpa adanya damar kurung.
Setelah sempat bertahun-tahun tidak terperhatikan, kurang lebih pada tahun 90-sekian, damar kurung tiba-tiba menjadi heboh karena sering dipamerkan di beberapa kota dan dianggap sebagai karya seni sehingga membuat beberapa pejabat pusat bahkan Presiden menjadi tertarik. Seorang mbah Masmundari yang dilahirkan pada 4 Januari 1904 menjadi pelukis tunggal dibalik itu semua sampai akhirnya oleh Pemda Gresik, damar kurung dijadikan maskot kota Gresik.

Namun yang sangat disayangkan adalah kurangnya perhatian yang diberikan oleh Pemda Gresik. Sampai pada saat meninggalnya mbah Masmundari (Sabtu 24/12/2005) dalam usia 101 tahun, tidak terlihat usaha dari Pemda Gresik untuk berusaha melestarikannya kecuali menjadikannya sebagai maskot dan hanya sekedar menjadi pajangan di tiap perempatan jalan. Padahal dengan karakter lukisan damar kurung yang polos kekanak-kanakan dengan warna-warna terang, kemungkinan untuk melestarikan dengan mengenalkannya ke masyarakat semenjak usia dini lebih terbuka peluangnya.
Mungkin pada waktu padusan kemaren anda masih bisa menemukan penjual-penjual damar kurung terutama disekitar kompleks pemakaman Tlogo Pojok tapi kalo anda cermati maka anda akan menemukan gaya lukis -karakter- damar kurung itu sudah berubah, begitupun dengan permainan kombinasi warnanya. Hal itu dikarenakan kita dulu tidak sempat belajar pada mbah Masmundari -semasa hidup- sehingga yang terjadi adalah penjiplakan pola-pola lukisannya sekedar untuk memenuhi tuntutan pasar yang sebenarnya pun sudah jauh berkurang.
Hhhmmm….jadi berangan-angan kalo pada pelajaran menggambar anak-anak TK dan SD diajarkan tentang melukis ala damar kurung sepertinya menyenangkan juga tuh…
tulisan yang sama juga dipublish di http://ziegrusak.wordpress.com/
Ditulis dalam Seni-Budaya | 1 Komentar »


